JAKARTA – Indeks Bisnis-27 mengalami tekanan pada awal perdagangan Jumat (18/12/2020) seiring dengan jatuhnya saham perbankan jumbo seperti BMRI, BBCA, dan BBRI.

Pada pukul 09.36 WIB, Indeks Bisnis-27 koreksi 0,63 persen atau 3,35 poin menjadi 527,56. Sepanjang pagi ini, indeks bergerak di rentang 526,47 – 530,82.

Senada dengan Indeks Bisnis-27, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi 0,13 persen menuju 6.105,43. Indeks sempat ke zona hijau dan kemudian kembali terkoreksi.

Sepanjang pagi ini, IHSG bergerak di rentang 6.096,23 – 6.123,63. Terpantau 223 saham menguat, 163 saham koreksi, dan 170 saham stagnan.

Sejumlah saham big caps menjadi penekan utama Indeks Bisnis-27 seperti CPIN yang koreksi -2,19 persen, SMGR -1,74 persen, BMRI -1,82 persen, BBCA -1,08 persen, dan BBRI -0,92 persen.

Sementara itu, saham INKP naik 1,92 persen, MDKA 1,43 persen, SIDO 1,29 persen, PWON 1,82 persen, dan TOWR 0,51 persen.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menyampaikan kombinasi penguatan DJIA sebesar +0.49% seiring ekspektasi akan disetujuinya paket stimulus ekonomi yang baru dan akan dipertahankan rendahnya FFR hingga tahun akhir tahun 2021, naiknya EIDO +0.21% akan mendorong IHSG.

Di sisi lain, naiknya harga beberapa komoditas seperti minyak +1.27%, emas +1.19%, nikel +0.63%, dan CPO +0.50% berpotensi mendorong naik terbatas IHSG Jumat ini.

“Laju IHSG terbatas di tengah akan diberlakukannya PSBB terukur dan diturunkannya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh World Bank,” paparnya, Jumat (18/12/2020).

Bank Dunia merevisi proyeksi ekonomi pada tahun 2020 yakni -2.2% dari sebelumnya -1,6%. Proyeksi itu menjadi lebih buruk dari sebelumnya akibat dari tetap diberlakukannya PSBB seiring terus meningkatnya jumlah kasus Covid-19.

Namun, pertumbuhan diharapkan kembali meningkat pada tahun 2021 sebesar 4,4% jika pembatasan mobilitas secara perlahan dilonggarkan serta ditopang oleh vaksin corona.

Sementara itu, dengan kasus Covid-19 yang tak kunjung berkurang, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan turun tangan dengan membuat kebijakan pengetatan aktivitas masyarakat pada 18 Desember 2020 – 8 Januari 2021.

(DO) Sumber.