JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan signifikan seiring dengan masuknya investor asing pada sesi I perdagangan Selasa (10/11/2020), terimbas sentimen vaksin Covid-19.

Pada akhir sesi I, IHSG naik naik 1,55 persen atau 82,78 poin menjadi 5.438,79. Sepanjang hari ini, IHSG bergerak di rentang 5.412,59 – 5.469,07.

Total transaksi mencapai Rp8,55 triliun. Terpantau 257 saham menguat, 178 saham koreksi, dan 157 saham stagnan.

Kapitalisasi pasar membumbung menuju Rp6.342,38 triliun. Investor asing cenderung melakukan aksi beli dengan net buy Rp877,29 miliar.

Sejumlah saham perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi incaran utama investor asing.

Net Buy BBRI mencapai Rp512,1 miliar, sahamnya pun naik 4,88 persen ke Rp3.870. Adapun, net buy BBCA sejumlah Rp319 miliar, dan sahamnya meningkat 3,02 persen menuju Rp32.375. Saham BMRI naik 4,88 persen, dengan net buy Rp124,3 miliar.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menjelaskan bahwa kenaikan tajam indeks Dow Jones Industrial Average pada perdagangan Senin (9/11/2020) akan menjadi sentimen positif bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) kali ini.

“DJIA naik tajam 2,95 persen terdampak dari data uji coba Pfizer dan BioNTech yang menunjukkan vaksin Covid-19 produksi mereka lebih dari 90 persen efektif sehingga berpotensi mendorong IHSG mendarat kembali di level 5.400 Selasa ini,” ujar Edwin dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (10/11/2020).

Dia juga menuturkan sentimen positif pendorong penguatan IHSG juga datang dari naiknya EIDO dan naiknya harga komoditas seperti minyak, CPO, dan batu bara sehingga berpotensi mendorong naik saham dibawah komoditas tersebut.

Sementara itu, investor dihimbau untuk mewaspadai terjadinya aksi jual saham berbasis komoditas emas menyusul tajamnya kejatuhan harga emas pada penutupan perdagangan AS.

Saham terkait komoditas emas seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) masuk jajaran top losers dengan pelemahan masing-masing 5,34 persen dan 4,46 persen.

(DO) sumber.