JAKARTA – Ekonomi digital di Asia Tenggara melemah selama masa pandemi Covid-19.

Penelitian dari Google, Temasek Holdings Pte dan Bain & Co. menunjukkan, transaksi di empat bidang utama yakni seperti e-commerce, perjalanan, media, transportasi dan makanan, seharusnya tumbuh US$5 miliar menjadi sekitar US$105 miliar tahun ini ketika banyak konsumen beralih ke belanja online.

Pembatasan pergerakan menghambat pengeluaran perjalanan. Namun demikian, penelitian itu juga menunjukkan bahwa pengeluaran online akan pulih dengan cepat dan mencapai tiga kali lipat menjadi lebih dari US$300 miliar pada 2025.

Asia Tenggara yang memiliki Sea Ltd. yang didukung Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd., akan mengalami peningkatan 63 persen dalam nilai barang dagangan kotor e-commerce dari tahun lalu.

Pasalnya, konsumen dalam negeri semakin mengandalkan platform seperti RedMart dari Lazada atau Shopee untuk memenuhi bahan makanan dan kebutuhan pokok.

Belanja online kini diperkirakan mencapai US$172 miliar pada 2025 dibandingkan perkiraan sebelumnya $ 153 miliar.

“Ini merupakan indikasi yang jelas bahwa momentum belum tergelincir oleh lingkungan yang menantang tahun ini,” demikian tertulis dalam penelitian itu, dilansir Bloomberg, Selasa (10/11/2020).

Tidak mengherankan, perjalanan online adalah yang paling terpukul. Nilai transaksi bisnis ini anjlok 58 persen menjadi hanya US$14 miliar tahun ini. Namun, pemulihan industri diperkirakan akan dapat meningkatkan pasar menjadi US$60 miliar pada 2025. Transportasi dan pengiriman makanan, sektor yang didominasi Grab Holdings Inc. dan Gojek, juga terpukul dengan penurunan 11 persen menjadi US$11 miliar pada 2020.

Permintaan akan layanan transportasi online turun secara global, mendorong dua perusahaan rintisan paling berharga di kawasan ini untuk memangkas pekerjaan.

Namun secara keseluruhan, perubahan dalam perilaku konsumen tahun ini telah memajukan sektor internet. Asia Tenggara menambahkan 40 juta pengguna internet baru tahun ini. E-commerce mendorong pertumbuhan di Indonesia, meskipun pandemi menghancurkan perekonomian secara keseluruhan.

Ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu jatuh ke dalam resesi pertamanya sejak krisis keuangan Asia lebih dari dua dekade lalu pada kuartal ketiga.

Namun Google, Temasek dan Bain memperkirakan ekonomi digital Indonesia akan mencapai hampir tiga kali lipat menjadi US$124 miliar pada 2025, meskipun turun dari perkiraan sebelumnya sebesar US$133 miliar.

Pandemi juga mempercepat adopsi layanan keuangan online karena lebih banyak konsumen yang mengandalkan cara pembayaran dan transfer uang tanpa kontak, serta menghindari uang tunai.

Pinjaman digital, bagaimanapun, tidak berubah dari tahun lalu sebesar US$23 miliar, mencerminkan kekhawatiran atas kredit macet.

“Pemberi pinjaman peer-to-peer yang belum teruji yang menargetkan pinjaman hari gajian berisiko dan beberapa pemberi pinjaman tradisional yang lebih kecil akan menghadapi kesulitan di kuartal mendatang,” kata laporan itu.

Investasi teknologi di Asia Tenggara telah menurun sejak 2018, terutama didorong oleh perlambatan pendanaan unicorn besar-besaran. Perusahaan teknologi di kawasan itu mengumpulkan US$6,3 miliar dalam enam bulan pertama tahun ini, turun dari US$7,7 miliar setahun sebelumnya. Di sisi lain, Investasi non-unicorn sedang meningkat.

(DO) sumber.