Genbisnis, JAKARTA – Masih minimnya porsi perdagangan antara Indonesia dengan Amerika Latin dan Karibia diyakini bakal memicu peningkatan minat kerja sama ekonomi antarnegara di kawasan tersebut, terutama di sektor digital dan produk halal.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendorong pebisnis di dua kawasan untuk mengeksplorasi potensi untuk memperdalam kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Amerika Latin dan Karibia.

Hal ini direalisasikan lantaran kerja sama antara dua kawasan belum merefleksikan potensi yang sebenarnya. Total perdagangan Indonesia ke kawasan tersebut hanya 2 persen perdagangan Indonesia ke dunia dan hanya 0,34 persen dari Amerika Latin dan Karibia ke dunia. 

Dia mengatakan tiga fokus utama kerja sama antara Indonesia dengan Amerika Latin dan Karibia adalah membuka peluang baru, mengembangkan kerja sama ekonomi digital, dan menjadikan forum bisnis INALAC sebagai wadah interaksi bisnis di dua kawasan.

“Indonesia terbuka membangun kesepakatan dengan negara LAC. Tahun lalu sudah ada RI – Chile. Indonesia menjadi negara dengan perkembangan ekonomi digital tercepat dengan nilai US$130 miliar,” katanya.

Tak hanya ekonomi digital, pemerintah Indonesia juga membidik kerja sama terkait dengan produk halal. Hal tersebut diikuti dengan penandatanganan MoU produk halal antara RI-Chile pada ajang INALAC. 

“Tingginya minat industri halal terlihat dari adanya 73 institusi halal dari berbagai negara [di Amerika Latin dan Karibia] yang ingin kerja sama dengan Indonesia. Untungnya Chile jadi negara pertama yang mau kerja sama,” ungkap Menteri Agama Fachrul Razi.

Pemerintah Indonesia serius menggarap industri halal dengan membuat kebijakan seperti jaminan produk halal dan mandatori sertifikasi produk halal.

Di level domestik, Indonesia telah bekerja sama dengan 120 institusi yang terdiri dari universitas, BUMN, ormas islam, dan startup untuk mengembangkan industri halal.

(DO) sumber.