JAKARTA – Analis menilai kenaikan laba PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. didorong oleh pemulihan permintaan semen pada semester II/2020. Kinerja perseroan pada 2021 pun diperkirakan bisa lebih cerah.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin menuliskan dalam riset bahwa pemulihan marjin SMGR pada kuartal III/2020 cukup mengesankan.

“Hal ini [perbaikan marjin] kami yakini karena normalisasi permintaan [dari volume sangat rendah pada kuartal II/2020] dan efisiensi biaya [sebagian karena pelemahan harga batu bara],” tulis Mimi, seperti dikutip pada Rabu (4/11/2020).

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2020, SMGR membukukan kenaikan laba bersih sebesar 19,37 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp1,54 triliun dari sebelumnya Rp1,29 triliun.

Pada kuartal III/2020 saja, laba SMGR tercatat Rp929,3 miliar atau naik 459,8 persen secara kuartalan atau 14,7 persen secara tahunan.

Kenaikan laba itu terjadi pada saat pendapatan perseroan masih turun. Top line dari SMGR tercatat turun 8,89 persen yoy menjadi Rp25,62 triliun dari sebelumnya Rp28,12 triliun. Hal ini menandakan bahwa permintaan semen pada periode Juli – September 2020 tidak secepat yang diperkirakan oleh analis.

“Dengan kedatangan musim hujan pada medio kuartal IV/2020 dan pemulihan permintaan yang tampak lambat dari yang kami perkirakan, kami merevisi turun perkiraan [kinerja SMGR] menjadi lebih konservatif,” tulis Mimi.

Mimi memperkirakan pendapatan SMGR pada 2020 sekitar Rp36,2 triliun atau turun 10,3 persen yoy sebelum naik menjadi Rp38,4 triliun pada 2021.

Laba SMGR diperkirakan bisa mencapai Rp2,4 triliun pada tahun ini atau naik 1 persen secara tahunan dan terus meningkat pada tahun depan sebesar 31,5 persen yoy menjadi Rp3,1 triliun.

Adapun, prospek kinerja yang lebih baik untuk SMGR pada tahun depan diharapkan bakal ditopang oleh pemulihan aktivitas ekonomi dan potensi gelontoran anggaran pemerintah yang lebih besar untuk sektor infrastruktur serta pemulihan sektor properti.

Analis CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Ricky Ho dan Linggarsari Halim menambahkan bahwa pencapaian Semen Indonesia konsisten berada di atas konsensus analis sejak 2019.

Bahkan, realisasi pendapatan dan laba SMGR per September 2020 juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan CGS-CIMB Sekuritas Indonesia. Sebelumnya, Ricky dan Liggarsari memperkirakan SMGR mencatatkan laba Rp1,35 triliun per akhir kuartal III/2020.

“Kami melihat konsensus punya bias negatif terhadap posisi utang perseroan dan kekhawatiran mengenai perang harga di Jawa Timur,” tulis Ricky dan Linggarsari.

Kendati bisnis SMGR termasuk siklikal, Ricky dan Linggarsari mengingatkan bahwa performa emiten semen pelat merah ini terbukti dapat bertahan melewati beberapa krisis sejak 1998.

Ditambah lagi sebenarnya perang harga yang dikhawatirkan sebelumnya tidak terjadi mengingat kedatangan Hongshi di Jawa Timur tidak memicu penetapan harga baru di pasar.

Baik Mirae Asset Sekuritas maupun CGS-CIMB Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham SMGR.

Mimi Halimin memberikan rekomendasi trading buy untuk SMGR dengan target harga Rp10.200 per saham yang mencerminkan P/E tahun 2021 sebesar 19,2 kali.

Sementara Ricky dan Lingarsari memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp9.600 per saham.

Di lantai bursa, SMGR menguat 2,24 persen enjadi Rp9,125 per saham pada akhir perdagangan Rabu (4/11/2020). Selama enam bulan terakhir, SMGR melesat 40,93 persen dengan kapitalisasi pasar Rp54,13 triliun.

(DO)